Senin, 22 Agustus 2016

Diskriminasi?


 Tabik pun,


Kita pasti sering mendengar kata diskriminasi. Dan beberapa dari kita juga pasti tahu apa arti dari kata ini.
Diskriminasi. Apa itu diskriminasi. Mengapa bisa ada diskriminasi. Dari mana asal diskriminasi.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu pasti pernah terlintas di pikiran kita.

Apa itu diskriminasi?

Secara sederhana sikap semacam ini merupakan sikap membeda-bedakan antara seorang atau kelompok terhadap seorang atau kelompok lain. Diskriminasi bisa terjadi dimana pun dan kapan pun, dan bisa terjadi pada siapa saja. Mau itu anak kecil, remaja, atau bahkan orang dewasa pun bisa atau mungkin pernah terlibat dalam lingkaran diskriminasi. Mungkin sebagai objek, mungkin sebagai subjek, atau malah sebagai penonton.

Sebagai contoh, mari kita mengenang masa lalu kita saat kita masih anak-anak. Kita pasti pernah merasa dibeda-bedakan oleh orang lain, misal saat bermain atau melakukan apa pun jika kita tidak bisa melakukan sesuatu yang 'diperintahkan' oleh 'si dominan' maka kita akan disisihkan.

"yah gitu aja gak bisa, cemen ah ga asik. dah yuk tinggal aja"
atau ada yang lebih ekstrem
"eh jangan main sama dia, katanya emaknya tukang marah. nanti kita dimarahin lagi"




Tidak ada orang yang mau didiskriminasi. Si Resesif dan Si Pasif pasti tahu betul tentang hal ini. Lalu bagaimana dengan si Dominan? Kebanyakan si Dominan pasti tidak sadar akan hal ini. Mereka cenderung tidak peduli dengan hal-hal semacam ini dan lebih beranggapan bahwa jika orang lain tidak bisa mengikutinya maka akan ia tinggalkan. Yang kuat yang bertahan, mungkin begitu pikirnya.

Yang dewasa juga pasti pernah merasakannya, justru diskriminasi pada orang dewasa lebih dari apa yang dirasakan anak muda. Contoh yang paling kontras adalah yang kaya yang berkuasa. Bagi si Dominan pasti uang adalah yang paling bisa diandalkan, dan apapun prosesnya mau halal atau haram yang penting hasilnya.

Masih banyak lagi contoh diskriminasi yang ada di masyarakat. Logikanya kita tidak mungkin menghindari diskriminasi selama ada kesenjangan sosial, tapi setiap masalah pasti ada solusinya walau pun tidak semua solusi itu dapat menyelesaikan masalah. Setidaknya mulai sekarang kita dapat mengoreksi mulai dari diri kita sendiri, apakah kita sudah dapat bertoleransi dengan orang lain atau belum. Apakah kita sudah dapat menerima kekurangan orang lain atau belum, apakah kita sudah mencobanya. Semua diawali dari kita.

Diskriminasi ibarat malware yang sudah menginfeksi bug yang hampir semua anti virus tidak dapat mendeteksinya.

CIAO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

analitik